Selasa, 06 Mei 2008

Keluarga Cemara

Oleh: Nur Heni widyastuti

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah… keluarga
....

Barisan kata-kata diatas adalah sepenggal lirik lagu dari sebuah sinetron yang (mungkin) sangat kita rindu kehadiriannya, Keluarga Cemara. Sinetron yang dibuat tahun 1995 ini mengangkat sisi kehidupan yang paling dekat dengan kita dengan alur yang sederhana tapi bermakna. (Tulisan ini hanya sepenggal sisa-sisa ingatan penulis ketika dulu sering menyaksikan sinetron tersebut sewaktu kelas lima SD)


Tak dipungkiri bahwa setiap sinetron pasti memiliki dramatisasi alur cerita. Begitu pula sinetron Keluarga Cemara ini. Dalam cerita itu dikisahkan sebuah keluarga yang awalnya berkecukupan, karena suatu hal membuatnya jatuh miskin. Harus tinggal di pedesaan yang jauh dari jalan raya. Namun berkat olahan cerita sutradara Aswendo Atmowilopo, sinetron ini memiliki nilai edukasi tanpa dramatisasi yang hiperbolis. Penonton dibuat hanyut terharu dan terpana dengan natural tanpa paksaan konstruksi.

Diceritakan Si Abah (Adi Kurdi) harus menghidupi keluarganya sebagai tukang becak. Si Emak (Novia Kolopaking) si pembuat opak yang nantinya akan dijajakan oleh ketiga anakanya Euis (Cahya H.D.) yang duduk di bangku SMU, Ara yang duduk dibangku SMP dan adiknya (maaf lupa namanya) yang masih mengenyam pendidikan SD. Pemilihan tokoh-tokoh dan suasana pedesaan yang cocok membuat sinetron ini terkesan lebih ”hidup”.

Sinetron itu menawarkan kesahajaan yang dikemas tanpa rasa iba”dibuat-buat” secara berlebihan. Walaupun tidak menawarkan hedonisme kehidupan keluarga dan sekolah di remaja sekarang seperti sekarang, sinetron ini cukup menghibur. Namun mungkin jika sinetron Keluarga Cemara itu diputar di jaman sekarang seperti tertelan ditengah industri sinetron yang menawarkan percintaan, relaity show keluarga dan lain sebagainya.

Di tengah bombardir sinetron yang mengangkat hubungan keluarga sebagai objek, kehadiran dramatisasi natural sebuah keluarga tampaknya kini telah hilang. Kalaupun ada sinetron yang menawarkan dramatasisasi keluarga, namun kalau saya menilai terlalu hiperbola dan malah membuat malas untuk menonton. Apalagi ditambah acara-acara reality show yang juga menyorot hubungan keluarga yang justru kurang dalam hal edukasi kekeluargaan. 

Kehadiran senetron seperti Keluarga Cemara itulah yang dibutuhkan keluarga Indonesia saat ini. Kesederhanaan dan kesahajaan natual yang dihadirkan, bukan konstruksi realitas semu.

Juga merindukan sound track yang menggugah semangat :
Selamat pagi emak
Selamat pagi abah
Mentari hari ini berseri indah...


(30 April 2008)

SHARE THIS

0 Comments: