Wednesday, April 16, 2008

Surat Pembaca, Si Buntut Panjang dan Jurnalisme Warga

Oleh : Bambang Haryanto*

Membrangus Suara Warga ! Penulis surat pembaca, waspadalah. Terlebih lagi bila Anda menekuni panggilan hidup sebagai seorang epistoholik alias pencandu penulisan surat-surat pembaca, berhati-hatilah terus. Karena Anda dapat tersandung kasus yang bersifat anomali di Indonesia. Termasuk ancaman gugatan milyaran rupiah !

Simak kisah Abidin Taher, Ketua BPD Desa Kanibungan, Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru. Ia menulis surat pembaca dan dimuat di Banjarmasin Pos, 2 Oktober 2003. Isinya berupa keluhan terhadap penambangan batu bara oleh PT BCS. Ia tuliskan, PT bersangkutan melakukan perusakan sungai dan hutan mangrove desanya. Hal itu bisa dikatakan sebagai tindakan kejahatan lingkungan karena tanpa perijinan atau dokumen seperti AMDAL dan dokumen lainya. Buntut surat pembaca itu Abidin Taher harus menjalani pemeriksaan polisi, dituduh PT BCS melakukan pencemaran nama baik. Bahkan dirinya ditetapkan jadi tersangka.

Kasus kedua, situs berita detik.com (23/8/2007) mewartakan "Penulis Surat Pembaca Digugat PT Duta Pertiwi Rp 17 Miliar.” Gara-garanya, Khoe Seng Seng, penulis surat pembaca bersangkutan, telah menulis surat pembaca di Kompas, Suara Pembaruan dan Warta Kota. Dalam surat pembaca itu ia mengaku tertipu oleh pengembang karena harga dan kondisi kios yang dibelinya tidak sesuai dengan perjanjian awal.

Dalam emailnya kepada saya (21/1/2008) Khoe Seng Seng menceritakan, “tujuan utama dari gugatan atau pun mempidanakan penulis surat pembaca umumnya agar konsumen yang lain selain penulis surat pembaca menjadi takut dan tidak berani mengkorek-korek kecurangannya. Hal diatas lah yang saya tangkap dari kasus saya ini dan ternyata memang benar di mana dari 3000-an orang yang dirugikan yang berani bicara hanya beberapa orang (19 orang) dan ke 19 orang ini semua diperdatakan dengan gugatan berkisar 11 m - 17 m rupiah.

Dan yang menulis surat pembaca ada 4 orang yang salah satunya adalah saya. Cerita dari 4 orang ini berbeda-beda. Masing masing menceritakan lingkungannya sendiri-sendiri. Karena pelaku usaha ini punya banyak produk yang sebagian besar bermasalah, inilah yang diceritakan ke 4 orang tersebut. Akibat cerita di surat pembaca inilah yang kemudian menyeret 4 orang ini ke pengadilan dengan nilai gugatan miliaran rupiah.”

Kalau Anda ingin memberikan dukungan moral kepada Bapak Khoe Seng Seng, silakan kontak via email ke : surat_sengseng@yahoo.co.id.

Kasus ketiga, termuat penuturan Lim Ping Kiat di Seputar Indonesia, 9/10/2007. Gara-gara menulis surat pembaca berisi keluhannya memakai jasa perantara properti Era Indonesia, pada September 2005 ia dilaporkan secara pidana oleh perusahaan itu. Kasus dihentikan polisi karena bukan merupakan kasus pidana. Lim Ping Kiat sekarang melaporkan balik secara pidana fihak Era Indonesia karena telah membuat laporan tidak benar tentang dirinya melalui laporan kepolisian tahun 2007 ini.


Intimidasi Kepada Penulis Surat Pembaca. Ketiga kasus di atas merupakan contoh buruk betapa partisipasi warga dalam ikut menegakkan kehadiran pers sebagai pilar keempat demokrasi, mengundang resiko bagi dirinya. Cerita sejenis tak kurang banyaknya dialami kaum epistoholik. Dilempari surat kaleng, pesan pendek bernada cemoohan sampai didatangi fihak yang kena kritik dengan alasan untuk memperoleh verifikasi, bisa diartikan sebagai bentuk-bentuk halus intimidasi untuk penulis surat pembaca.

Resiko-resiko itu disadari para penulis surat pembaca yang oleh Emanuel Rosen dalam The Anatomy of Buzz : How To Create Word-of-Mouth Marketing (2000) disebutkan merupakan golongan berpengaruh di Amerika Serikat. Mereka dianggap sebagai warga negara pilihan karena keterlibatannya dalam kegiatan publik, politik atau pun sosial.

Warga negara pilihan itu dalam merentangkan otot-otot hak demokrasinya, menurut saya, sebenarnya lebih mempunyai masalah dengan media tempat mereka ingin menunjukkan partisipasinya. Karena idealisasi Triyono Lukmantoro di artikel berjudul “Rubrik Partisipatoris, Akses bagi Publik Lokal,” (Kompas Jawa Tengah, 8/10/2007) bahwa tulisan di kolom Surat Pembaca dan Suara Warga (melalui SMS) merupakan cikal bakal berita-berita partisipatoris, masih jauh panggang dari api.

Kendala utamanya, terletak pada keterbatasan fisik koran yang berbasis atom, alias kertas. Selain itu karena topiknya beragam, sulit up to date (akibat kelamaan antri menunggu pemuatan ?) dan juga akibat kekurangan visi para penulis surat pembaca sehingga tidak mampu menulis topik hangat dan relevan, menjadikan surat pembaca kurang berkilat untuk diangkat sebagai berita partisipatoris.

Topik-topik keluhan terhadap produk/layanan lembaga pemerintah/swasta, kritik terhadap kebijakan pemerintah di daerah tertentu, permintaan sumbangan buku perpustakaan, sampai permintaan bantuan agar bisa kuliah atau memperoleh pekerjaan, merupakan topik –topik sempit yang kurang “seksi,” jauh dari nilai heboh sebagai berita. Belum lagi kecenderungan “abadi” pemberitaan media yang lebih bersifat searah, dari atas ke bawah (top down) dan dari elite politik ke masyarakat luas (one-to-many).


Fenomena Si Buntut Panjang. Beragam kendala di atas kini bisa didobrak berkat teknologi. Gregory P. Gerdy, pakar Internet Dow Jones, dikutip Mary J. Cronin (ed.) dalam The Internet Strategy Handbook : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996) menjabarkan bahwa media cetak membuat aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah.

Kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang banyak tidak disadari para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Chris Anderson, editor majalah gaya hidup Internet, Wired, dalam bukunya The Long Tail: Why the Future of Business is Selling Less of More (Hyperion : 2006), menyajikan gambaran menarik mengenai lanskap bisnis (termasuk media) masa depan (kini sudah terjadi), di mana saya ingin menempatkan kedudukan para penulis surat pembaca dalam konstelasi bisnis masa depan tersebut.



Dalam grafik di atas, media cetak berada di ranah kepala, head (merah), yang merupakan potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity. Para pengelola media dalam bahasanya Anderson, melaksanakan apa yang disebut prinsip hit-driven economics, ekonomi pembuat hit, dengan memfokuskan bisnisnya hanya menggarap sajian-sajian informasi yang menurut mereka memiliki potensi jual.

Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana tidak cukup ruang untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula. Karena tidak cukup kolom di media cetak untuk memuat segala berita yang ada. Tidak cukup ruang di rak-rak toko untuk menampung semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia.

Dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, a world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat. Chris Anderson menunjukkan bahwa masa depan dunia bisnis bukan bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala, head, bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian buntut panjang, the long tail, yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

Dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dan tidak sedikit dari mereka yang menuai sukses besar pula.

Pendobrakan media, dengan tersedianya media ekspresi bagi semua orang melalui fasilitas blog (weblog) di Internet dewasa ini, yang berada di ranah “buntut panjang” (kuning) menghadirkan heboh praksis jurnalisme warga atau jurnalisme partisipatoris. Karena di ranah ini warga dibuka selebar-lebarnya akses untuk memainkan peran aktif dalam proses menghimpun informasi, melaporkan, menganalisis sampai menyebarkan berita dan informasi. Kalau penulis Amerika Serikat, A. J. Liebling (1904–1963) pernah berkata bahwa “freedom of the press is guaranteed only to those who own one,” kini berkat hadirnya media blog (weblog), atau fasilitas jurnal di Internet, membuat setiap orang mampu memiliki kebebasan pers, dengan menjadi penerbit di muka dunia.


Berita Adalah Dialog. Saya mengenal blog pada tahun 2003 yang membangkitkan niat kembali untuk mendirikan komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia. Saya yakin, kegetolan menulis surat pembaca bila dipadukan dengan teknologi blog di Internet akan mampu memberi otot dan bobot yang hebat bagi eksistensi Epistoholik Indonesia sebagai salah satu pilar demokrasi.

Dalam berinteraksi dengan media cetak, di tengah revolusi dunia digital yang terjadi, kami sedang berusaha mencari peran yang lebih progresif untuk menyuarakan aspirasi pembaca. Mengingat media cetak selama ini juga terlalu journalist-centered, berpendekatan top-down, kini kami sedang mengetuk-etuk pintu digital mereka. Seru kami, “libatkan kami, jadikan kami sebagai sumber diskusi koran Anda, karena itu bermakna bagi masyarakat kami !”, sesuai tesis dari Dan Gillmor, pelopor citizen journalism yang kini marak di Amerika Serikat.

Sinergi antara peran kaum epistoholik dengan media-media baru berbasis digital berpeluang merombak eksistensi isi media secara revolusioner. Kita tahu, orang-orang media yang belum mempunyai mindset dunia digital pasti berpikir bahwa berita sampai iklan di media berbasis atom, alias kertas, merupakan terminal akhir suatu informasi. Padahal, agar pesan informasi tersebut makin komprehensif dan tidak bias, pemuatan itu hanyalah awal.

Sedang lanjutannya merupakan percakapan, interaksi langsung, antara pencetus dengan konsumen informasi. Di sinilah dunia digital kemudian tampil mengambil peran vital. “Markets are conversations”, begitu kredo Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), manifesto baru dan radikal untuk dunia bisnis dalam era digital.

“News are conversations, too ! ” begitulah juga yang seharusnya terjadi dalam lanskap media. Percakapan itu tidak hanya terjadi antara wartawan dan pembaca (sementara di Indonesia kebanyakan wartawan ogah berdiskusi, ogah membalas email yang dikirimkan pembaca !), tetapi juga antarpara pembaca itu sendiri. Dinamika interaksi antarpembaca atau antarwarga itu belum disadari pentingnya oleh kebanyakan para pengambil keputusan dan pemilik media.

Di ranah buntut panjang yang tak terbatas itu, Epistoholik Indonesia bercita-cita memberdayakan setiap insan sebagai sumber pengetahuan dan kearifan yang terintegrasi dalam jaringan untuk kesejahteraan kehidupan bersama. Saya impikan, EI kelak akan seperti amuba, yang membelah dan terus membelah. Saya impikan, misalnya si A akan mandiri untuk menghimpun para penulis surat pembaca khusus topik X, si B melakukan hal sama dengan spesialisasi topik Y, dan begitulah seterusnya.

Memanglah, di Internet warga EI tersebut ibarat hadir sebagai pulau-pulau cendekia, yang kecil-kecil, banyak sekali, meronai isi bagian “buntut panjang”-nya Chris Anderson. Tetapi antarmereka mudah sekali bisa saling tersambung dan tanpa hirarki. Pulau-pulau cendekia itu diharapkan membentuk gugus-gugus cendekia yang memiliki minat sama. Semua gugus itu, juga gugus minat yang lainnya, saling terhubung dalam suatu jaringan maya.

Sehingga bila seseorang yang membutuhkan informasi sampai bimbingan tertentu akan dirujuk kepada ahlinya, sekaligus “kebun-kebun” tulisannya, atau bahkan berdiskusi dengan yang bersangkutan beserta komunitasnya. Inilah aplikasi dari manajemen ilmu pengetahuan (knowledge management) yang diterapkan untuk masyarakat luas.

Kalau dalam konstelasi media cetak kita terbiasa untuk tergantung kepada opini yang ditulis satu-dua orang pakar, di Internet pakar itu bisa banyak sekali. Hal ini jelas memberikan lebih banyak sudut pandang, karena seringkali pencari solusi lebih mencari perspektif dibanding solusi yang baku.


Mutiara Yang Hilang. Epistoholik Indonesia berkeyakinan bahwa tulisan surat pembaca hanyalah puncak dari gunung es harta karun si penulisnya. Di bawah puncak itu sebenarnya tersembunyi khasanah ilmu pengetahuan, pengalaman dan kearifan tiap-tiap individu yang dapat digali dan dikomunikasikan.

Hanya karena selama ini mereka dibatasi oleh media yang ada, membuat mereka sulit berekspresi, membuat gembolan atau ilmu simpanan, baik pengetahuan, pengalaman sampai wisdom milik mereka, sulit keluar atau diaktualisasikan. Mutiara-mutiara ilmu pengetahuan itu banyak sekali terpendam, sulit untuk diketahui orang lain. Mungkin hanya jadi sekadar bahan omongan, secara lisan, juga tidak terdokumentasikan, sehingga akhirnya mudah sekali hilang ditelan jaman.

Dalam World Summit on Information Society (WSIS) II di Tunisia (16-19/11/2005) telah tercetus kredo, “apabila Anda tidak dapat berekspresi maka eksistensi Anda dianggap tidak ada” Merujuk hal eksistensial itu maka semua warga EI saya dorong untuk memulai hal yang sama : mengelola blog masing-masing di Internet sebagai sarana berekspresi, menulis, mengaktualisasikan diri dan mempublikasikannya sehingga karya olah budi mereka mampu memberikan kontribusi kepada sesama.

Kalau selama ini para penulis surat pembaca ibarat tali pusarnya, umbilical cord, selalu tersambung kepada media massa cetak, maka kehadiran blog mampu membuat penulis-penulis surat pembaca memutus tali pusar tersebut. Ibarat bayi, terputusnya tali pusar tersebut merupakan prasyarat untuk menuju kedewasaan, kemandirian dan kemerdekaan.

Wartawati Deborah Branscum (Newsweek, 12/3/2001 : hal. 53) telah mengutip pendapat Dave Wiener tentang blog. Wiener adalah seorang veteran entrepreneur Lembah Silikon dan pendiri perusahaan peranti lunak Userland Software yang mengutak-atik situs blog Scripting.com miliknya sejak 1997.

Wiener mengibaratkan, blog baginya merupakan suatu perang suci. Katanya, saya tertarik menciptakan bentuk jurnalisme baru. Saya tidak mempercayai sumber-sumber media, seperti jaringan televisi dan majalah-majalah. Kita butuh memperoleh kesadaran sebagai sebuah masyarakat dan salah satu cara terbaik untuk hal penting tersebut kita harus mulai bicara dan juga mendengar. Kini terdapat 6 milyar penghuni dunia dan bila mereka semua memiliki blog, dunia bakal menjadi lebih baik karenanya.

Di tahun 1970-an duo legendaris Simon & Garfunkel dalam lagu “Sound of Silence” tergurat lirik menarik, berbunyi : the words of the prophets are written on the subway walls. Nubuat para nabi-nabi tertulis di tembok-tembok stasiun trem bawah tanah.

Siapa tahu, di era blog dewasa ini, akan ada penyanyi lain yang menggubah lagu dengan lirik baru, tentang nubuat nabi-nabi yang tertulis dalam kolom-kolom surat pembaca. Juga pada situs-situs blog masa kini.

Siapkah koran-koran kita segera merealisasikan praksis jurnalisme warga yang menggairahkan itu ? Kalau siap, usul saya : urusi dulu baik-baik para penulis surat pembaca koran Anda. Karena merekalah pionir dan praktisi jurnalisme warga !

Wonogiri, 30 Januari 2008

*Penulis adalah Ketua Epistoholik Indonesia
(Tulisan ini dipresentasikan dalam Seminar Nasional “Jurnalisme Warga: Ancaman Bagi Media Massa?” yang diadakan LPM VISI FISIP UNS pada Kamis, 28 Februari 2008)

SHARE THIS

0 comments: